Kehidupan anak kos memang identik dengan kehidupan yang serba apa adanya, yang penting bisa kuliah dan bisa makan, walaupun ada juga yang tidak begitu. Saya sebagai orang yang termasuk menjadi anak kos merasakan sendiri hal itu. Di sinlah kehidupan baru dimulai. Kehidupan yag mengharuskan kita untuk mandiri.
Anak kos dituntut untuk bisa lepas dari kebisaan2 yang dilakukan di rumah, karena kehidupan di rumah atau tempat asal sangat berbeda dengan kehidupan yang harus dijaani sebagai seorang anak kos. Yang biasanya kalau mau makan tinggal pergi ke dapur, karena ortu sudah menyediakan makanan. Berbeda hal nya dengan hidup di kos2an, kalua tidak masak sendiri atau beli makanan keluar maka tidak akan bisa makan. Belum lagi bertemu dengan teman2 yang baru, lingkungan masyaraka si sekiar kos yang pastinya juga baru.
Kehidupan sebagai anak kos memang berat, pasti ada masalah yang akan dihadapi, terutama masalah ekonomi, belum lagi masalah dengan teman se-kos, masalah dengan tetangga, dan masalah lainnya. Tapi saya yakin masalah yang pertama tadi merupakan masalah yang paling sering dihadapi. Tidak sedikit yang mengeluh kehabisan uang, apalagi waktu akhir bulan, banyak yang memnjam uang pada temannya. Hal itu tidak bisa dipungkiri, dan saya juga mengalaminya.
Dengan menjalani kehidupan baru, pastinya juga banyak hal2 baru yang di temui. Kerena hidup di kota besar, banyak hal2 yang menyenangkan dan tentunya juga banyak biaya yang dikeluarkan untuk hal itu. Misalnya saja tempat hiburan sepaerti diskotek. Banyak uang yang harus dikeluarkan untuk bisa menikmati hiburan tersebut. Seperti yang pernah teman sayan ceritakan kepada saya, dia pernah terjerumus kedalam gelapnya dunia narkoba. Dia bilang bila tidak memakai inex maka tidak akan merasa enak, yang ada hanya pusing dan sakit dada karena degupan musik yang sangat keras di dalam diskotek itu. Banyak uang yang dia habiskan untuk membeli barang haram tersebut. Ya kenikmatan sesaat tapi membuat ketagiahan dan yang pasti membuat banyak uang habis karenanya. Syukur2 saya tidak pernah mencobanya.
Teman saya itu termasuk orang dari keluarga yang berkecukupan, tapi walaupun begitu, banyak juga barang2 yang dia jual untuk bisa membeli barang haram tersebut. Seperti yang pernah dia ceritakan bahwa dulu dia punya hape yang terbaru yang pastinya mahal hingga hape yang paling murah dan akhinya tidak punya hape lagi melainkan punya banyak hutang. Huh mengerikan.
Belum lagi ia juga seorang pemakai sabu2, dia juga sangat suka mabok. Tapi alhamdulillah dia sekarang sudah bisa keluar dari dunia gelap itu. Tapi mungkin satu yang dia masih belum bisa dia hentikan, yaitu minum2an keras.
Ada lagi cerita tentang free sex, wah ini juga hampir menjadi hal yang wajar bagi anak kos. Karena kos yang ditempati bebas membawa cewek masuk, maka selesai deh, siapa yang tau apa yang mereka lakukan berdua di dalam.
Lain lagi cerita tentang makan siang waktu bulan ramadhan, ini lebih parah lagi, mereka tidak malu2 lagi beli makanan di warung2 pinggir jalan yang buka di siang hari. Malam harinya rame2 pergi ke mesjid kaya orang mau taraweh, tapi bukan shalat malah nongkrong di tempat orang jualan pentol dan minuman lainnya. Sampai orang selesai sholat, ikutan juga pulang berlaga kaya orang selesai sholat taraweh. Waduh pokoknya parah deh.
Tapi menurut saya sich itu sah2 saja kerena itu merupakan pengalaman yang sangat berarti. Yang nantinya jadi pelajaran bagi generasi penerus supaya tidk dituruti. Selain itu hal ni juga menghapus rasa penasaran yang selalu membelenggu dalam pikiran.yaah walaupun itu sebenarnya dosa.
Mungkin karena kurangnya pengetahuan tentang agama yang jelas2 melarang itu semua yang membuat kita tidak berpikir panjang untuk menoba barang haram tersebut.
Itu sebagian kecil dari fenomena kehidupan anak kos, tapi kan tidak semua anak kos seperti itu(mudah2an). Banyak juga yag bisa menjaga dirinya dari hal yang dilarang oleh agama. Dan mudah2an apa2 yang saya tuliskan di atas tadi tidak dilakukan lagi oleh anak2 kos lainnya.