Mungkin terlalu ekstrim jika saya memberi judul tulisan ini dengan judul sebuah pertanyaan “Banjarmasin kota pemabok?”. Namun dalam isi tulisan ini mungkin bisa sdikit memberi bayangan atau gambaran untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Apa benar Banjarmasin kota pemabok? Coba deh anda liat di pnggir-pinggir jalan di mana saja di Banjarmasin. Pasti ada botol-botol bekas minuman keras yang dipakai para masyarakat untuk berjualan bensin(walau tidak semuanya). Botol bekas minuman topi miring itu bahkan ada yang tidak dilepas tempelan mereknya. Itu mungkin bisa saja menandakan bahwa isi minuman dalam botol itu baru saja dpakai(diminum). Namun kita tidak bisa juga menuduh langsung bahwa mereka yang memakai botol itu untuk jualan bensin berarti juga meminum minuman itu. Mungkin saja mereka membelinya dari orang lain, tapi siapa yang tahu??
Bukan hanya untk jualan bensin, para penjual minyak bulus juga menggunakan botol minuman keras untuk menjual minyak dagangannya. Namun tidak pke botol minuman yang dipakai untuk jualan bensin, ukurannyalebih kecil, tp tetap saja pada intinya botol minuman keras. Malah botol yang dipakai para penjual minyak bulus ini lebih elit dikit, karena harga minumannya sama.namun lebih sedikit isinya karena ukuran botolnyapun lebih kecil.
Ini hanya sebuah fakta kecil yang menggambarkan bahwa Banjarmasin ini kota pemabok, dan saya hanya menulis berdasarkan fakta yang ada. Entah kenapa setelah melihat fakta yang ada ini langsung timbul keinginan saya untuk menulis tentang apa yang saya liat setiap hari itu.
Jadi apa benar banjarmasin an katanya “bungas” ini memang kota pemabok? Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, mudah-mudahan saja itu semua tidak benar, dan mudah-mudahan saja pa yang ssya liat tiap hari itu hanya sebuah ilusi.