Semasa Tan Malalaka, banyak tokoh-tokoh penulis dan pemikir yang piawai. Mereka banyak membuat tulisan yang sampai hari ini pun dapat dibaca dan bermanfaat. Seperti Pamflet politik (seperti perjuangan kita oleh sjahrir), teks untuk pengajaran di universitas (seperti Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi oleh Hatta), naskah untuk pendidikan politik (seperti Sarinah oleh Soekarno), atau berbagai uraian tentang pendidikan nasional (seperti ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara) adalah bahan-bahan yang menjadi batu sendi sejarah Intelektual Indonesia.

Walau begitu, di antara semua mereka mungkin hanya Tan Malaka saja yang menulis traktat lengkap yang komprehensif tentang ideologi yang dianut dan dibela-belanya. Dengan sedikit berlebihan bahwa Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika, telah ditulis oleh Tan Malaka untuk menguji paham-paham tersebut atas cara yang sama luas dan sama ketatnya seperti misalnya, Karl Popper menulis The Open Society and Its Enemies untuk menjelaskan, mempertahankan dan menguji demokrasi liberal, atau Karl Kautsky menulis Dies Materialistische Geschichtsauffassung (1927), yang dianggap interprestasi materialistis terlengkap tentang sejarah pada saat terbitnya, walau buku itu tidak terlalu popular dikalangan Marxis sebagai akibat konflik antara Kautsky dan Lenin, setelah Kautsky mengkritik Revolusi Oktober 1917 di Rusia.

Tan Malaka maupun Karl Popper memperlihatkan suatu keyakinan yang sama, yaitu suatu paham politik yang kuat dan ideologi yang dianut luas selayaknya berdiri diatas epistemologi politik yang dapat dipertanggungjawabkan sampai ke dasar yang sedalam-dalamnya, dan diuji konsekuensinya sampai batas yang terjauh.

Tanpa harus menerima filsafat materialisme yang dibelanya, pembaca yang kritis dapat mempelajari berbagai persyaratan fisik-materil yang diajukannya supaya ada kehidupan di alam semesta ini. Nalar yang dikembangkannya adalah jelas, sederhana dan sistematis, sehingga tidak mustahil dapat dipahami bahkan oleh orang-orang yang mentah-mentah menampik paham materialisme.

Karl Popper mengatakan bahwa ketidakmampuan orang untuk menjelaskan gejala alam dan gejala masyarakat secara emppiris dan rasional, akan membawa orang kepada metafisika. Dalam masalahnya adalah bahwa semakin kurang orang berusaha dan berjuang untuk membuktikan sesuatu, semakin mudah pula ia berpegang pada kepercayaan-kepercayaan gaib, yang membuatnya menjadi tertutup dan keras terhadap kepercayaan lainnya. Perlu dikemukakan bahwa Popper tidak menolak metafisika dalam pengertian ini (yang jelas berbeda sekali dari metafisika dalam pengertian Aristoteles dan Thomas Aquinas). Yang ditegaskan adalah bahwa soal-soal metefisika tidak dapat dipecahkan secara ilmiah, karena ilmu pengetahuan bekerja melalui metode-metode yag menguji logika penelitian realitas bahan penelitian.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang kesalahan logis lainnya yang dinamakan petitio principii yang dalam bahasa Inggris disebut begging of the question. Kesalahan yang terjadi bahwa apa yang harus dibuktikan, kemudian diambil sebagai bukti.

Tan Malaka berpendapat bahwa baik logika maupun dialektika harus dipergunakan secara bersamaan, tergantung apa yang hendak diselidiki. Logika adalah metode untuk mengetahui salah satu keadaan yang dipilih untuk diteliti. Sedangkan dialektika dibutuhkan untuk memahami perubahan keadaan tersebut pada keadaan lainnya.

Dalam logika, apa yang baik tidak mungkin sama dengan apa yang tidak baik, dan yang jahat tidak mungkin sama dengan yang tidak jahat. Dialektika barulah berfungsi kalau harus dijelaskan bagaimana seorang pembunuh kemudian berubah menjadi pekerja sosial yang penuh pengabdian, atau bagaimana kejahatannya telah mendatangkan kebaikan untuk gerakan buruh di Indonesia.

Pentingnya kedudukan logika dalam kehidupan moral ini merupakan suatu lowongan besar yang relatif diabaikan dalam buku yang ditulis dengan pengetahuan yang luas, disiplin yang tinggi, dan kejujuran yang mendalam. Berdasarkan pandangan sejarah Tan Malaka, bahwa baik buruknya seseorang sangat dipengaruhi oleh situasi sejarah dimana ia hidup. Kalau benar dugaan itu maka disitulah terdapat suatu inkonsistensi besar dalam pemikiran Tan Malaka. Karena, dalam evolusi biologis dia memberikan kebebasan relatif kepada manusia untuk bertahan terhadap sejarahnya.

Uraian tentang pemikiran Tan Malaka ini dimungkinkan dengan terbitnya kembali buku Madilog pada tahun 1999 oleh pusat Data Indikator, Jakarta, dengan pengantar oleh Wasid Soewarto. Penerbitan kembali naskah ini patut disambut dengan gembira, karena dengan itu ditemukan kembali suatu matarantai penting sejarah intelektual Indonesia, yang waktu itu hanya terpendam dalam gudang, atau disembunyikan di bawah tanah. Buku seperti ini akan dikutip berkali-kali di masa mendatang sebagai buku sumber. Karena itu penerbitannya perlu didukung oleh editing yang lebih teliti dan professional.

Konsep dasar dalam filsafat Marx adalah keaktifan manusia, action, yang dalam bahasa Jerman disebut Taetigkeit. Manusia, dalam pandangan filsafat Marx, bukanlah pertama-tama makhluk yang berpikir seperti yang diajarkan oleh Aristoteles dan kemudian dipertajam oleh Descartes. Bagi Marx, manusia pertama-tama adalah homo agens, makhluk yang berbuat, bertindak, bekerja. Konsep taetigkeit boleh dikatakan menjadi fundamen seluruh filsafat Marx.

Demikian pula dalil Hegel tentang sejarah, bahwa sejarah dibentuk oleh ide absolute,menurut redaksi penerbitan ini berbunyi: Die absolute Idee macht die Gesichte. Pembaca tidak mengenal filsafat Hegel tetapi paham bahasa Jerman akan pusing tujuh keliling membaca kalimat itu. Kekeliruan terjadi karena kata Geschichte yang berarti sejarah ditulis Gesichte yang merupakan bentuk jamak dari das Gesicht yang berarti muka atau wajah orang.Karena itulah untuk edisi berikut pada cetak ulang nanti sangat dianjurkan agar editor dan penerbit meminta keterangan dan nasihat-nasihat dari orang-orang yang berkompeten. Dengan berbuat demikian, mereka telah menyumbang banyak terhadap keterlanjutan sejarah intelektual di Indonesia, bukan saja engan dedikasi, tetapi juga dengan kritik dan koreksi.