Awalnya saya tidak percaya hal ini,namun setelah mendengar cerita teman kemaren, hal itu memang benar.
Jadi ceritanya kami melakukan kegiatan pkl ke Muara Hunge yang terletak di daerah Barabai. Kami berada di sama selama kurang lebih 3 hari 2 malam. Dari banjarmasin menempuh perjalana kurang lebih 4 jam dengan mobil, kami turun dari mobil di daerah Natih, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 3 jam untuk menuju balai Muara Hunge.
Saat di natih, ada seorang ibu-ibu yang mengngatkan kami untuk berhati-hati di sana, karena beliau bilnag di sana(Muara Hunge) penduduknya bukan orang kita, ya maksudnya mereka di sana beragama Budha Kaharingan. Dan beliau juga bilang mereka di sana banyak punya “inguan” atau bisa dibilang memelihara makhluk gaib.
Setelah tiba di Muara Hunge hari sudah sore, kami pun langsung istirahat setelah lelah berjalan. Tidak ada sedikitpun terbesit di pikiran saya bahwa akan menemui kejadian yang kurang masuk akal ini. Karena malam pertama kami di sana bisa dibilang sangat ramkami yang tadi malam e, terus bercanda dan tertawa sampai malam. Malam itu pun tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Namun esok harinya ada seorang warga yang meminta dosen kami untuk menegur kami yang malam itu ribut sampai larut malam.
Setelah mendapat teguran tersebut, malam kedua itu kami pun “ba apik” agar tidak tejadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jam sepuluh malam kami sudah bersiap untuk tidur, bahkan sebelum jam sepuluh sudah ada teman-teman yang tidur.
Ketika sekitar jam dua malam, saya terbangun karena mendengar suara anak-anak yangs angat serisk di teras rumah. Suara meereka terdengar jelas karena saya tidur di ruang tamu yang cuman terpisah dinding dengan teras depan. Namun itu tidak membuatsaya berpikir yang aneh-aneh, ya mungkin juga karena mata saya yang sudah sangat mengantuk. Paginya sekitar jam lima an teman-teman sara ribut membicarakan hal tersebut. Awalnya saya hanya tertawa mendengar mereka meributkan hal itu.namun jika dipikir-pikir lagi, rasanya sangat tidak masuk akal anak-anak bermain sekitar jam dua malam.
Setelah agak siangan saat kami mulai berkemas untuk pulang, dosen kami juga bercerita tentang hal tersebut, malahan beilau melihat mereke sedang bermain seperti bermain bola, namun tidak ada bolanya. Seorang teman mahsiswa ingin turun dan menegor mereka namun beliau larang, karena beliau meliha mereka tidak menginjak tanah. Entah apa jadinya jika sampai ditegor.
Kejadian itu sungguh tidak masuk akal namun nyata terjadi. Belakangan setelah kami pualng ke banjarmasin, ada lagi teman saya yang bercerita bahwa dia melihat nenek-nenek di dekat kuburan saat dalam perjalanan menuju Muara Hunge tersbut, dia (teman saya) berjalan di belakang kami, tertinggal sekitar 15 menit. Padahal kami yang berjalan di depan dia tidak melihat apa-apa saat melewati kuburan tersebut. Yang membuat seram lagi saat dia bejalan melewati nenek tersebut, dia menegor mau permisi numpang lewat, namun nenek itu cuman diam saja seoalah tidak meliahat dia lewat.
Teman saya itu pun baru berani bercerita setelah tiba di Banjarmasin dan setelah dia mendengar cerita tentang kejadian aneh saat di Muara Hunge itu saja. Seandainya dia tidak mendengar atau tidak tau tentang kejadian tersebut, mungkin dia tidak akan berani bercerita tentang kejadian aneh yang dialaminya.
Mau percaya atau tidak ya teserah..